Sibuk
May 13th, 2008 by amiriz-daddyLagi males bikin Blog, nih… Sibuk
Lagi males bikin Blog, nih… Sibuk
Buku berikutnya yang gue lahap kali ini Deception Point (Dan Brown) yg udah gue bawa-bawa sejak trip ke Karimunjawa Juni lalu. Kali ini 80% isi buku gue habisin selama di perjalanan pulang pergi naik kereta Jakarta – Semarang.
Sama dengan buku-buku Dan Brown yang udah gue baca sebelumnya, inti ceritanya gak jauh dari misteri pembunuhan. Kali ini gue baca tentang intrik-intrik politik yang melibatkan White House, NASA, NRO & CIA. Cerita bermula dengan pembunuhan seorang ilmuwan Kanada di kutub utara, sementara di Washington DC sedang ramai-ramainya kampanye presiden. Tentu saja kedua awal cerita ini akan berhubungan di tengah-tengah sampai akhir cerita.
Di sini kita bisa liat kepiawaian Dan Brown dalam mencampuradukkan fiksi dan realita. Semua tokoh dalam buku ini fiktif, tapi settingnya nyata. Di akhir cerita kita akan tahu bahwa tidak ada yang salah dengan lembaga-lembaga tersebut, yang salah hanya beberapa tokoh-tokoh di dalamnya.
Buku ini lumayan tebal, tapi sebetulnya cuma bacaan ringan aja koq, gak perlu pusing dengan alur yang njelimet, hanya saja makin dalam kita baca makin penasaran kita menebak-nebak: who is the real bad guy?
Tinggal 1 buku Dan Brown lagi yang belum gue baca, Digital Fortress. Tapi bukunya belum gue beli, tunggu kalo ada pameran buku atau diskon dulu deh, hehe…
Mei – Juni 2007, rutin seperti tahun-tahun sebelumnya – monitoring ekologi terumbu karang. Tanggal 19 Mei sampai di Semarang & di Karimunjawa. Bulan-bulan ini sudah masuk musim timur, sebagian besar dari lokasi-lokasi monitoring kita (yang kebetulan hampir semuanya di sisi timur pulau-pulau), terkena gelombang yang bisa bikin orang yang di atas kapal mabok laut. Bahkan buat orang-orang seperti kita yang biasanya tahan, kali ini mesti ikutan pusing & mual. Cuaca juga sering berubah-ubah, kadang panas terik, kadang mendung, kadang hujan, kadang angin kencang, kadang sepoi-sepoi aja.
Gue sudah siapkan 2 buku bacaan buat mengisi waktu luang, Deception Point (Dan Brown) & Shadow Divers (Robert Kurson) ditambah 1 tabloid otomotif edisi minggu itu. Tapi suasana homestay gak nyaman buat baca, sering panas walaupun ada kipas angin, lampu penerangan malam kurang terang malam hari, mau baca di luar banyak lalat & gak seger, bawaannya ngobrol. Akhirnya yang habis dibaca cuma tabloidnya, selama 2 minggu pertama buku-buku itu cuma nongkrong di meja aja. Sebagian besar waktu luang dipake buat tidur atau main game, hehe…
Satu-satunya tempat nyaman buat baca cuma di kapal. Baru 1 minggu terakhir gue baru bisa bawa buku ke kapal karena banyak waktu karena perjalanan ke lokasi sekitar 2 jam, lumayan. Tadinya gue mau baca buku Dan Brown, tapi gue yakin gaya ceritanya gak jauh beda sama 2 buku yg udah gue baca sebelumnya (The Da Vinci Code & Angels & Demons), pasti tentang pembunuhan misterius. Akhirnya gue baca Shadow Divers aja dulu. Gue baca selama perjalanan di kapal & selesai dalam 5 hari.
Shadow Divers merupakan novel non-fiksi tentang 2 deep-wreck-diver, John Chatterton & Richie Kohler sebagai tokoh sentral yang berhasil mengidentifiksi sebuah kapal selam Jerman jaman Perang Dunia II yang semula dinyatakan tenggelam di Afrika. Dalam buku ini juga menceritakan tentang teknis penyelaman kapal karam (wreck) yang berbahaya & sangat dekat dengan kematian.
Pengalaman para wreck-divers ini sangat menarik buat gue sebagai sport-scientific-diver. Pertama, gak ada istilah buddy system dalam deep-wreck diving, cuma akal sehat & kesadaran yang jadi buddy mereka. Keberadaan penyelam lain justru bisa membahayakan bahkan membunuh keduanya. Setan yang bernama nitrogen narkosis yang ada di dalam darah setiap penyelam lah yang jadi penyebabnya. Tapi dalam sport diving, keberadaan buddy diperlukan, gue pernah deep dive tahun 1999 sampe kedalaman 50 meter (sekitar 150 feet) & di situ gue kehilangan kesadaran, gue tidur! Kebayang gak kalo buddy gue tidur juga atau malah halusinasi?
Kedua, tidak cukup kondisi fisiologis yang prima untuk menjadi deep-wreck-diver. Kondisi psikologis juga harus prima. Diperlukan ketenangan yang luar biasa dalam menghadapi pressure. Pelatihan aja gak cukup bisa membentuk seseorang menjadi deep-wreck-diver. Gue bilang jadi wreck-diver itu “gifted”, bahasa Indonesianya mungkin antara bakat dan anugerah. Di sport diving mungkin contohnya seseorang dengan fisik bagus, renang jago, tapi gak bisa jadi diver cuma karena punya sinusitis akut, itu istilah gue gak berbakat jadi penyelam.
Ketiga, gak berkaitan sama diving, sistem arsip yang lengkap & tertata rapi memudahkan kedua tokoh tersebut dalam pencarian informasi. Salah satu kelebihan orang-orang barat dalam mencatat dan mengarsipkan sejarah, gak kayak orang-orang asia umumnya yang menceritakan sesuatu secara turun-temurun, dari dari mulut ke mulut, yang bisa bikin se-jengkal jadi se-depa, atau 1 meter jadi 90 senti, hehe…
Buku ini recommended lah buat teman-teman diver buat nambah pengetahuan, supaya tidak sombong jadi penyelam, mengutip kata-kata instruktur gue mas Budhi H. Iskandar, “biasanya jadi penyelam itu deket sama sombong & sombong itu deket sama mati”.
Sorry banget, judul sama isi gak sama lamanya, judulnya 3 minggu, baca bukunya 5 hari aja, hehe…
Tepatnya 8 hari! Gue berangkat hari Rabu, 14 Februari, terbang pake pesawat pertama, jam 5 pagi gue udah nongkrong di Citibank Lounge, lumayan… sarapan sambil baca buku.
Kegiatan selama survey di Pulau Beras & Pulau Weh gak terlalu mengasyikan…, mungkin karena cuma 4 hari ambil data. Tapi yang paling mengasyikkan adalah gue bisa ngerjain proyek baca buku! Selama seminggu itu gue berhasil menamatkan 2 buku karya Dan Brown yang gue beli dengan diskon 30% di Gramedia Botanical Square. The Da Vinci Code, yang selama 1 bulan sebelum ke Aceh baru habis 2/3nya, akhirnya sisanya tamat dalam 1 hari.
Kemudian lanjut dengan buku Dan Brown lainnya: Malaikat & Iblis (Angels & Demons), dibaca selama hari-hari di penginapan, selama nunggu di bandara, selama di pesawat pulang (Kamis, 22 Februari), cuma menyisakan beberapa bab aja. Itupun tamat dalam 1 hari berikutnya.
Komentar gue mengenai kedua buku ini; keduanya menyajikan cerita yang mengasyikkan, bacaanya gak terlalu berat, bab-babnya pendek, ceritanya maju mundur & pindah-pindah “scene” kayak film. Pokoknya bisa bikin gak berhenti baca sebelum capek…
Selain itu, kedua buku ini mencapuradukkan fakta dengan fiksi, “mengacak-acak” sejarah, wajar aja kalo buku ini jadi perdebatan & kontroversi. So… be careful to believe, mesti bijak dalam membaca buku ini. Cenderung menyeret gue untuk mencari-tahu kebenaran, mana yang fakta & mana yang fiksi.
Intinya, gue bisa menyalurkan obsesi baca gue dengan nyaman. Baca… apapun, text book, majalah, koran, tabloid, novel. Jadi keinget dulu banget, gue pernah nonton film di TV, gue lupa judulnya, yang menceritakan salah satu tokohnya, seseorang yang rela cuma jadi sopir demi menyalurkan hobinya membaca novel.
Ngomong-ngomong…, judul sama isinya gak nyambung ya?
Dua minggu terakhir ini merupakaan saat-saat melelahkan. Bapak yang sudah sejak lebaran Idul Adha sakit, kondisinya makin menurun. Kecurigaan ibu bahwa bapak menderita diabetes terbukti setelah hasil lab menunjukkan gula darah bapak berada di atas batas maksimum yang disarankan. Disamping itu hasil lab juga menunjukkan gangguan fungsi ginjal yang merupakan dampak dari diabetes yang dideritanya. Kemudian ditambah kandungan kolesterol darah yang tinggi, dan yang bikin ambruk: paratyphus positif. Setelah dirawat 2 hari di RSUD Pasar Rebo, hasil pemerikasaan EKG juga menunjukkan bahwa bapak mengalami stroke ringan malam sebelum masuk RS, hingga akhirnya dirujuk ke ICCU RS BCC karena CVCU di RS Pasar Rebo penuh.
Sebagai orang yang tidak cukup ilmu di bidang kesehatan, kita cuma bisa belajar & membaca literatur, atau menduga-duga. Penyakit bapak yang datang rombongan ini merupakan akumulasi dari ‘ignorance’. Ketidaktahuan tentang kesehatan. Gaya hidup yang masa bodoh, menganggap enteng penyakit atau simptom-simptom rasa sakit yang diderita.
Bertahun-tahun lalu sebelum bapak pensiun dari dinas ketentaraan, hasil check-up menunjukkan kolesterol tinggi, lebih lanjut tentu saja harus mengatur pola makan. Namun, pola makan sehat hanya bertahan sebentar saja, berbagai pantangan mulai dilanggar, porsi makan tetap sebanyak porsi biasanya. Semakin lama, kebiasaan olahraga yang dijalani bapak mulai ditinggalkan, apalagi dengan kesibukan beliau dengan pekerjaan-pasca-pensiunnya yang melelahkan. Di luar kota dengan makanan yang mungkin kurang higienis & kurang sehat.
Tidak perlu dirinci, berapa besar biaya yang sudah & bakalan keluar untuk pengobatan bapak, berapapun akan diusahakan walau harus menggadaikan seluruh harta kekayaan yang sudah dimiliki hasil kerja keras bapak selama ini.
Karena itulah Rizya… Usaha kamu mengurangi porsi makan sudah baik sebagai permulaan. Tapi itu masih belum cukup, kamu perlu mengatur pola makan sehat, ikuti petunjuk pola makan sehat dari berbagai literatur. Dan yang paling penting mulai OLAHRAGA!
Setelah sekian lama gak olahraga, susah banget buat memulai ya… Segala macem alasan bakalan muncul, berikut percakapan antara Wiser Rizya (GR) & Denial Rizya (DR):
DR : Gimana nih? Badan gue koq rasanya gak enak banget nih, celana gue pada sempit
WR : Mangkenye… olahraga dong!
DR : Waduh… bukannya males niih, gue gak punya waktu
WR : Masa sih? Bangun pagi dong! Kan bisa sebelum berangkat kerja. ‘Istri kita’ ngajakin terus tuh biar langsing juga katanya…
DR : Aduuh… gue bukan morning person, man. Lu tau sendiri kan, gue kalo tidur larut banget, udah gitu gue kalo tidur kurang dari 6 jam lemes, euy… bawaanya nguap melulu deh…
WR : Kalo gitu, lu olahraga sore-sore aja, sebelum pulang kerja
DR : Suka banyak kerjaan, gak sempet…
WR : Ya lu sempet-sempetin dong, elu-nya aja yang males
DR : Abis, suka nanggung sih, sore-sore gitu biasanya waktu hot-hotnya semangat kerja
WR : Tuh, apalagi kalo semangat lagi tinggi, mendingan lu olahraga deh, kalo fisik sehat, spirit juga nambah deh, kerja juga lebih baik
DR : Iya juga sih…
WR : Udah deh, besok lu bawa kaos, celana & sepatu kets, jangan lupa bawa handuk sama sabun, biar lu sekalian mandi
DR : Tapi gue gak punya sepatu olahraga
WR : Lho, sepatu kets yang putih itu emang kenapa?
DR : Udah tua, itu sepatu gue beli tahun ‘95. Sol-nya udah mangap, gak enak dipakenya, udah sempit
WR : Alesan aja deh, lu kan bisa beli. Kenapa? Sayang duit apa sayang kesehatan? Sehat itu mahal! Biaya ke dokter mahal, obat mahal. Inget gak, 7 tahun lalu ‘kita’ batuk parah, habis sejuta tuh berobat…
DR : Eng… eeuh… (mikir)
Selepas kuliah, saat diving jadi pekerjaan tetap gue, berat badan gue naik-turun di kisaran 80 – 82 kg, rasanya sih ideal, karena gak ada yang namanya perut buncit, cuma ada sedikit banyak lapisan lemak di kulit.
Naah…, setelah nikah & punya anak, niih… biasa…, sindrom bapak-bapak yang jarang olah raga, menggelembung lah sampe pernah mencapai 87 kg, sampe kaget sendiri lihat timbangan, hehe…
Tapi sekarang, kesadaran untuk ber-diet mulai diperhatikan. Setahun belakangan ini kebiasaan makan sampai kenyang dikurangi, porsi nasi jadi separuh dari biasanya, sayur diperbanyak, & yang lebih penting minum air putih banyak-banyak.
Hanya satu hal yang sampai sekarang maaleeeeess banget dijalani: OLAHRAGA!!! Come on man…, olahraga dong! Jogging keq, berenang keq, ngapain keq… Biar badan bisa stabil di 80 kg, otot kuat, napas panjang, lemak menipis, gak gampang kena flu, atau biar konsumsi tabung selam bisa lebih irit lagi.
Kelas 2 SMP merupakan saat tinggi badan gue menyamai tinggi badan bapak gue yang 168 cm. Bayangken, dalam waktu sekitar 2 tahun tinggi gue melesat 21 cm… Gue udah lupa, berapa tinggi badan gue waktu masuk SMA, mungkin di kisaran 172 – 175 cm. Sebetulnya ini normal, karena masa puber memang masanya pertumbuhan yang pesat. Tapi disamping itu, gue mewarisi sifat genetis dari Aki (bapaknya ibu) dan Enéh (ibunya bapak) yang tinggi besar. Kalau kebalikannya sih, mungkin tinggi badan gue mentok di 165 cm, hehe…
Rasio berat badan gue secara signifikan naik sejak lulus SMA mulai dengan berat 60 kg, tinggi 178 cm. Kerempeng. Padahal selama SMA, gue rajin push up, sit up, bench press, angkat dumbel dsb., niatnya sih biar body gue kebentuk, gak kerempeng banget. Porsi makan dobel, dua piring mentung sekali waktu makan, tapi tetep aja gak naik-naik, mungkin karena dietnya jelek, banyakan nasi daripada proteinnya, hehe… Gak heran sih…
Semasa kuliah gue jelas merupakan masa perkembangan, maksudnya mengembang ke samping. Lulus kuliah di usia 25 tahun, berat badan gue mencapai sekitar 80 kg, jadi dalam waktu 6 tahun badan gue membengkak sekitar 20 kg! Ada beberapa hal yang bikin ‘penggelembungan’ ini; Di tahun pertama kuliah, walaupun tinggal di tempat kos, tapi serasa tinggal di rumah, lauk pauk memang dijatah, tapi nasi enggak, cuci setrika gak dikerjakan sendiri. Mulailah berat badan merayap naik. Kemudian ada masa jeda liburan sekitar 2 bulan antara tingkat I ke tingkat II, di rumah ortu terus, makanan terjamin, angkat beban jalan terus, sehingga membengkak lagi sekitar 4 kg. Ketika MPF (ospek fakultas) berlangsung, berat badan sudah mencapai 72 kg. Tapi selama 2 minggu ospek ini sempat menurun lagi beberapa kilo karena kurang makan & kurang tidur. Momen lain yang bikin berat badan naik drastis adalah saat masuk klub selam, aktifitas renang, angkat tabung & angkat kompresor, mulai merangsang otot-otot selama menjalani diklat. Selepas diklat frekuensinya mulai menurun. Kebiasaan deh, jika pada mulanya rajin olahraga kemudian berhenti, berat badan bukannya turun, tapi malah melambung tinggi… Selain itu, gue merasakan karena sering mengayuh fins, ditambah lagi dengan beberapa kali naik gunung, paha terasa membesar. Sayangnya tidak diimbangi pembesaran betis, jadinya gak proporsional, hehe…
Fisik gue di usia 34 jalan ini menurut gue sih sehat-sehat aja, tapi yang jelas gak fit… Tinggi badan gue sekarang 179 cm & berat di kisaran 82 – 85 kg, lebih banyak bertahan di 84 kg. Menurut hitung-hitungan body mass index chart dari oom Wikipedia jelas-jelas overweight, idealnya sih cuman 74 kg dengan kisaran antara 61 – 80 kg. Tapi koq dengan berat 74 kg, gue ngerasa masih kurus? Tulang-tulang rusuk, selangka & belikat gue masih kelihatan menonjol. Gue baru ngerasa ideal kalo berat badan gue 80 kg, dengan syarat gak banyak tumpukan lemak di perut, hehe… Bisa aja dengan berat badan gue sekarang gue sebut ideal kalau gue olahragawan (kalau binaragawan sih berat gue mesti 90 kg kali ya…), tapi buat orang yang gak olahraga sih bikin tumpukan lemak di sana sini, terutama terkonsentrasi di sekitar perut.
Pada masa kecil gue, famili gue punya panggilan “si ade peyot”, mungkin karena saking kurusnya gue saat itu. Mereka bener juga sih, kalo gue liat-liat kembali ke album foto masa kecil gue, gue emang peyot, begéng, kerempeng dkk. Lebih parahnya lagi, masa pra-sekolah gue, gue mengalami yang namanya cacingan! Gue inget banget suatu waktu masih tinggal di Malang, gue nangis teriak manggil-manggil ibu gue saat – maaf – lagi BAB seekor cacing berjuntai dari lubang pembuangan gue bersama dengan kotoran. Ibu gue dengan sigap menjepit cacing tersebut dengan sapu lidi & menariknya keluar.
Selama masa SD hingga SMA badan gue ya gitu-gitu aja, kurus. Tapi kelebihan gue dari kecil sampe besar, tinggi badan gue memang di atas rata-rata teman-teman sebaya. Gue inget banget, tinggi badan gue lulus kelas 6 SD 147 cm. Mungkin untuk anak-anak ukuran sekarang (yang bongsor-bongsor), tinggi segitu sih terbilang kecil. Malahan anak gue yang umurnya mau 5 tahun aja tingginya hampir 115 cm.