Antara kerémpéng & overweight (part 2)
Kelas 2 SMP merupakan saat tinggi badan gue menyamai tinggi badan bapak gue yang 168 cm. Bayangken, dalam waktu sekitar 2 tahun tinggi gue melesat 21 cm… Gue udah lupa, berapa tinggi badan gue waktu masuk SMA, mungkin di kisaran 172 – 175 cm. Sebetulnya ini normal, karena masa puber memang masanya pertumbuhan yang pesat. Tapi disamping itu, gue mewarisi sifat genetis dari Aki (bapaknya ibu) dan Enéh (ibunya bapak) yang tinggi besar. Kalau kebalikannya sih, mungkin tinggi badan gue mentok di 165 cm, hehe…
Rasio berat badan gue secara signifikan naik sejak lulus SMA mulai dengan berat 60 kg, tinggi 178 cm. Kerempeng. Padahal selama SMA, gue rajin push up, sit up, bench press, angkat dumbel dsb., niatnya sih biar body gue kebentuk, gak kerempeng banget. Porsi makan dobel, dua piring mentung sekali waktu makan, tapi tetep aja gak naik-naik, mungkin karena dietnya jelek, banyakan nasi daripada proteinnya, hehe… Gak heran sih…
Semasa kuliah gue jelas merupakan masa perkembangan, maksudnya mengembang ke samping. Lulus kuliah di usia 25 tahun, berat badan gue mencapai sekitar 80 kg, jadi dalam waktu 6 tahun badan gue membengkak sekitar 20 kg! Ada beberapa hal yang bikin ‘penggelembungan’ ini; Di tahun pertama kuliah, walaupun tinggal di tempat kos, tapi serasa tinggal di rumah, lauk pauk memang dijatah, tapi nasi enggak, cuci setrika gak dikerjakan sendiri. Mulailah berat badan merayap naik. Kemudian ada masa jeda liburan sekitar 2 bulan antara tingkat I ke tingkat II, di rumah ortu terus, makanan terjamin, angkat beban jalan terus, sehingga membengkak lagi sekitar 4 kg. Ketika MPF (ospek fakultas) berlangsung, berat badan sudah mencapai 72 kg. Tapi selama 2 minggu ospek ini sempat menurun lagi beberapa kilo karena kurang makan & kurang tidur. Momen lain yang bikin berat badan naik drastis adalah saat masuk klub selam, aktifitas renang, angkat tabung & angkat kompresor, mulai merangsang otot-otot selama menjalani diklat. Selepas diklat frekuensinya mulai menurun. Kebiasaan deh, jika pada mulanya rajin olahraga kemudian berhenti, berat badan bukannya turun, tapi malah melambung tinggi… Selain itu, gue merasakan karena sering mengayuh fins, ditambah lagi dengan beberapa kali naik gunung, paha terasa membesar. Sayangnya tidak diimbangi pembesaran betis, jadinya gak proporsional, hehe…