Tiga minggu di Laut Jawa

Mei – Juni 2007, rutin seperti tahun-tahun sebelumnya – monitoring ekologi terumbu karang. Tanggal 19 Mei sampai di Semarang & di Karimunjawa. Bulan-bulan ini sudah masuk musim timur, sebagian besar dari lokasi-lokasi monitoring kita (yang kebetulan hampir semuanya di sisi timur pulau-pulau), terkena gelombang yang bisa bikin orang yang di atas kapal mabok laut. Bahkan buat orang-orang seperti kita yang biasanya tahan, kali ini mesti ikutan pusing & mual. Cuaca juga sering berubah-ubah, kadang panas terik, kadang mendung, kadang hujan, kadang angin kencang, kadang sepoi-sepoi aja.

Gue sudah siapkan 2 buku bacaan buat mengisi waktu luang, Deception Point (Dan Brown) & Shadow Divers (Robert Kurson) ditambah 1 tabloid otomotif edisi minggu itu. Tapi suasana homestay gak nyaman buat baca, sering panas walaupun ada kipas angin, lampu penerangan malam kurang terang malam hari, mau baca di luar banyak lalat & gak seger, bawaannya ngobrol. Akhirnya yang habis dibaca cuma tabloidnya, selama 2 minggu pertama buku-buku itu cuma nongkrong di meja aja. Sebagian besar waktu luang dipake buat tidur atau main game, hehe…

Satu-satunya tempat nyaman buat baca cuma di kapal. Baru 1 minggu terakhir gue baru bisa bawa buku ke kapal karena banyak waktu karena perjalanan ke lokasi sekitar 2 jam, lumayan. Tadinya gue mau baca buku Dan Brown, tapi gue yakin gaya ceritanya gak jauh beda sama 2 buku yg udah gue baca sebelumnya (The Da Vinci Code & Angels & Demons), pasti tentang pembunuhan misterius. Akhirnya gue baca Shadow Divers aja dulu. Gue baca selama perjalanan di kapal & selesai dalam 5 hari.Shadow_divers_2

Shadow Divers merupakan novel non-fiksi tentang 2 deep-wreck-diver, John Chatterton & Richie Kohler sebagai tokoh sentral yang berhasil mengidentifiksi sebuah kapal selam Jerman jaman Perang Dunia II yang semula dinyatakan tenggelam di Afrika. Dalam buku ini juga menceritakan tentang teknis penyelaman kapal karam (wreck) yang berbahaya & sangat dekat dengan kematian.

Pengalaman para wreck-divers ini sangat menarik buat gue sebagai sport-scientific-diver. Pertama, gak ada istilah buddy system dalam deep-wreck diving, cuma akal sehat & kesadaran yang jadi buddy mereka. Keberadaan penyelam lain justru bisa membahayakan bahkan membunuh keduanya. Setan yang bernama nitrogen narkosis yang ada di dalam darah setiap penyelam lah yang jadi penyebabnya. Tapi dalam sport diving, keberadaan buddy diperlukan, gue pernah deep dive tahun 1999 sampe kedalaman 50 meter (sekitar 150 feet) & di situ gue kehilangan kesadaran, gue tidur! Kebayang gak kalo buddy gue tidur juga atau malah halusinasi?

Kedua, tidak cukup kondisi fisiologis yang prima untuk menjadi deep-wreck-diver. Kondisi psikologis juga harus prima. Diperlukan ketenangan yang luar biasa dalam menghadapi pressure. Pelatihan aja gak cukup bisa membentuk seseorang menjadi deep-wreck-diver. Gue bilang jadi wreck-diver itu “gifted”, bahasa Indonesianya mungkin antara bakat dan anugerah. Di sport diving mungkin contohnya seseorang dengan fisik bagus, renang jago, tapi gak bisa jadi diver cuma karena punya sinusitis akut, itu istilah gue gak berbakat jadi penyelam.

Ketiga, gak berkaitan sama diving, sistem arsip yang lengkap & tertata rapi memudahkan kedua tokoh tersebut dalam pencarian informasi. Salah satu kelebihan orang-orang barat dalam mencatat dan mengarsipkan sejarah, gak kayak orang-orang asia umumnya yang menceritakan sesuatu secara turun-temurun, dari dari mulut ke mulut, yang bisa bikin se-jengkal jadi se-depa, atau 1 meter jadi 90 senti, hehe…

Buku ini recommended lah buat teman-teman diver buat nambah pengetahuan, supaya tidak sombong jadi penyelam, mengutip kata-kata instruktur gue mas Budhi H. Iskandar, “biasanya jadi penyelam itu deket sama sombong & sombong itu deket sama mati”.

Sorry banget, judul sama isi gak sama lamanya, judulnya 3 minggu, baca bukunya 5 hari aja, hehe…

One Response to “Tiga minggu di Laut Jawa”

  1. anna farida Says:

    senang sekali menemukan pembaca shadow divers, terlebih pembaca itu juga penyelam.Saya penerjemahnya, dan sering merasa tenggelam beneran saat membayangkan pekatnya kedalaman lautan. Sayang buku tersebut kurang laku, dan banyak yang diretur ke penerbitnya. Nampaknya kurang promosi, padahal buku ini bagus banget. Mungkin temanya terlalu khusus, dan obsesi deep wreck-diver seperti itu masih belum diapresiasi menpora :)

Leave a Reply